Jumat, 26 Agustus 2016



PT. 254 ILMU NUTRISI TERNAK PERAH









KEBUTUHAN BAHAN KERING (BK)

OLEH
Nama                           : Fajri Maulana
Bp                                : 1410621025
Paralel                          : 02








FAKULTAS PETERNAKAN

SEMESTER GANJIL 2014/2015




KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah, rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Ilmu Nutrisi Ternak Perah berjudul tentang “Kebutuhan Bahan Kering ”.
            Selesainya Makalah Ilmu Nutrisi Ternak Perah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1.      Ibuk Prof, Dr, Ir, Fauzia Agustin,. MS sebagai dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Nutrisi Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Universitas Andalas.
2.      Orang Tua yang telah memberi dukungan moral dan material dalam kuliah ini.
3.      Rekan-rekan seperjuangan mahasiswa serta semua pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun materil.
Semoga Allah SWT memberikan imbalan yang belimpah atas segala bantuan yang telah diberikan dan bermanfaat hendaknya bagi para pembaca. Amin.






20 Agustus 2016
                                                                                               

                                    Penulis





BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Susu sapi perah merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, karena susu bernilai gizi tinggi dan mempunyai komposisi zat gizi lengkap dengan perbandingan gizi yang sempurna, sehingga mempunyai nilai yang sangat startegis. Susu sebagai salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan oleh generasi muda terutama usia sekolah. Namun demikian produksi susu sapi perah sampai saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan susu dalam negeri, sehingga masih mengimport susu sebanyak 60 – 70%. Belum terpenuhinya kebutuhan susu diakibatkan dari rendahnya produktivitas sapi perah (Anggraeni et al., 2001). Menurut Schmidt et al (1988), bahwa produktivitas sapi perah yang masih rendah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : 1). Breeding (bibit) 2). Feeding (pakan) dan 3). Management (tata laksana). Namun jika dilihat dari total biaya produksi dalam usaha peternakan, maka kontribusi pakan yang lebih tinggi yaitu sekitar 75 persennya.
Pakan adalah suatu bahan yang dimakan hewan yang mengandung energi dan zat-zat gizi atau keduanya didalam bahan tersebut (Hartadi et al 1986). Menurut Setiawan dan Arsa (2005), Bahan pakan terdiri atas dua komponen utama yaitu air dan bahan kering. Bahan kering dibagi lagi menjadi dua, yaitu bahan organik dan bahan anorganik.  Bahan organik terdiri atas karbohidrat, lemak, protein dan vitamin.  Bahan anorganik terdiri atas mineral dengan berbagai unsur-unsurnya. Bahan pakan ini harus diberikan pada ternak sebagai kebutuhan hidup pokok dan produksi. Dengan adanya pakan maka proses pertumbuhan, reproduksi dan produksi akan berlangsung dengan baik.

1.2. Tujuan
1). Mahasiswa dapat mengetahui pengertian Bahan Kering
2). Mahasiswa dapat mengetahui fungsi Bahan Kering
3). Mahasiswa dapat mengetahui kebutuhan ternak akan Bahan Kering
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian
Bahan kering (BK) adalah bahan yang terkandung di dalam pakan setelah dihilangkan airnya. Jumlah pemberian ransum dapat diperkirakan dari kebutuhan  bahan kering. Jumlah bahan kering yang dapat dikonsumsi sapi sangat beragam, sesuai dengan kondisi lingkungan, berkisar 2,2% - 3,0% dari bobot tubuh (Sutardi, 1981) atau Bahan kering merupakan salah satu hasil dari pembagian fraksi yang berasal dari bahan pakan setelah dikurangi kadar air. Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berat kering (dry basis) (Immawatitari, 2014).
Bahan pakan terdiri atas dua komponen utama yaitu air dan bahan kering. Bahan kering dibagi lagi menjadi dua, yaitu bahan organik dan bahan anorganik. Bahan organik terdiri atas karbohidrat, lemak, protein dan vitamin.  Bahan anorganik terdiri atas mineral dengan berbagai unsur-unsurnya.
Makanan yang dikonsumsi ternak sebelum siap dimanfaatkan oleh tubuh ternak terlebih dahulu harus mengalami perombakan.  Bahan makanan tersebut dirombak melalui proses pencernaan yang berlangsung dalam saluran pencernaan. Pada kondisi normal, konsumsi bahan kering dijadikan ukuran konsumsi ternak.
Bahan kering ransum yang dikonsumsi sapi perah tersebut di dalam rumen akan difermentasi oleh mikroba rumen. Apabila BK ransum banyak mengandung protein maka akan membantu mikroba rumen untuk proliferasi atau perbanyakan jumlah. Jika jumlah mikroba rumennya banyak maka proses fermentasi di dalam rumen lebih optimal sehingga produk VFA yang dihasilkan juga optimal.       Konsumsi bahan kering menurut NRC (1988) merupakan kriteria yang penting dalam pakan sapi laktasi terutama sapi yang berproduksi tinggi karena kebutuhan energi tidak terpenuhi akibat keterbatasan konsumsi bahan kering. Keterbatasan konsumsi bahan kering akan berdampak pada penyusutan bobot badan atau penurunan produksi susu.


Soetarno (1999) mengatakan bahwa agar waktu puncak produksi tercapai, berat sapi tidak turun, dan pada akhir masa laktasi sampai masa kering sapi tidak terlalu gamuk, upaya yang dilakukan adalah mengatur konsumsi bahan kering pada seekor sapi perah laktasi sekitar 2,5 – 3,5 persen berat badan.
 Konsumsi bahan kering bergantung pada banyak faktor, diantaranya adalah kecernaan bahan kering pakan, kandungan energi metabolis dan kandungan serat kasar.  Bahan kering yang dikonsumsi dikurangi jumlah yang disekresikan  merupakan jumlah yang dapat dicerna.  Kualitas dan kuantitas bahan kering harus diketahui untuk meningkatkan kecernaan bahan makanan yang akan mempengaruhi jumlah konsumsi pakan.  Kualitas dari bahan kering akan mempengaruhi kualitas bahan organik dan mineral yang terkandung dalam bahan pakan.  Konsumsi bahan kering merupakan faktor penting untuk menunjang asupan nutrien yang akan digunakan untuk hidup pokok dan produksi. Kecernaan bahan kering yang tinggi pada ternak ruminansia menunjukkan tingginya zat nutrisi yang dicerna terutama yang dicerna oleh mikroba rumen.  Semakin tinggi nilai persentase kecernaan bahan pakan  tersebut, berarti semakin baik kualitasnya bahan makanan tersebut. Kisaran normal bahan kering yaitu 50,7-59,7%. 
                Cara perhitungan Bahan Kering dengan cara 100 – kadar air, di mana kadar air diukur merupakan persen bobot yang hilang setelah pemanasan pada suhu 105 °C sampai beratnya tetap. Kebutuhan bahan kering (BK) untuk sapi laktasi adalah 2-4% bobot badan.           
Kebutuhan konsumsi BK (kg / hari) menurut ARC
Konsumsi BK (kg / hari) = 0,025  X  Bobot Hidup (kg) + X produksi susu (kg/hari)
   = 0,025 X 450 + 0,1 X 12
    = 12,45 kg
2.2. Fungsi
            BK pakan berfungsi sebagai pengisi lambung dan merangsang dinding saluran untuk menggiatkan pembentukan enzim di dalam tubuh ternak. Kebutuhan BK ternak akan meningkat sesuai dengan bertambahnya produksi susu (Williamsom dan Payne, 1993). Apabila ternak kekurangan bahan kering menyebabkan ternak merasa tidak kenyang.

Pakan konsentrat merupakan komposisi pakan yang dilengkapi kebutuhan nutrisi utama, mengandung protein lebih dari 20% dan serat kasar kurang dari 18%, energi tinggi berperan sebagai penutup kekurangan zat makanan didalam pakan keseluruhannya (Ensminger,1971).

2.3. Faktor yang mempengaruhi kecernaan
   Faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan bahan kering, yaitu jumlah ransum yang dikonsumsi, laju perjalanan makanan di dalam saluran pencernaan dan jenis kandungan gizi yang terkandung dalam ransum tersebut.  Faktor-faktor lain yang mempengaruhi nilai kecernaan bahan kering ransum adalah tingkat proporsi bahan pakan dalam ransum, komposisi kimia, tingkat protein ransum, persentase lemak dan mineral.  Salah satu bagian dari bahan kering yang dicerna oleh mikroba di dalam rumen adalah karbohidrat struktural dan karbohidrat non struktural.

2.4. Kebutuhan BK pada waktu Laktasi
1. Tahap I (awal laktasi)
Setelah sapi melahirkan sampai 70 hari merupakan masa yang paling kritis karena pada saat ini sapi mulai memproduksi susu.
2.    Tahap II (puncak konsumsi bahan kering)
Sepuluh minggu ke 2 (minggu 10-20) setelah beranak sapi harus dijaga supaya puncak produksi berlangsung selama mungkin.(tahap II) terlihat pada 12-14 minggu setelah beranak, sapi akan mengkonsumsi bahan kering terbanyak. Konsentrat yang dimakan dapat mencapai 2,5% berat abdan sapi (sapi berat 650 kg membutuhkan 16 kg konsentrat). Bahan kering hijauan yang dimakan paling sedikit 1% berat badan sapi, hijauan tersebut digunakan untuk memelihara fungsi rumen dan tes lemak.
3.    Tahap III ( pertengahan dan akhir laktasi)
Pada pertengahan dan akhir laktasi yaitu pada hari ke 140-305 setelah sapi beranak, sebagian besar sapi hanya mengalami sedikit masalah.


4.    Tahap IV (masa kering)
Masa kering dilakukan 6-8 minggu (2 bulan) sebelum laktasi berikutnya. Bahan kering yang dikonsumsi hendaknya 2% dari berat badannya. Konsumsi bahan kering hijauan sebanyak 1% dari berat badannya, maka konsumsi bahan kering konsentrat tidak boleh lebih dari 1% berat badan.

2.5. Tabel kebutuhan BK
Tabel 1. Kebutuhan zat nutrient sapi dara BB 300 kg, PBBH (pertambahan bobot badan perhari) 500 gram/hari
Berat badan
PBBH/kg
BK/kg
TDN/kg
PK/gr
Ca/gr
P/gr
300
0,5
7,1
3,8
423
14
1

Tabel 2 : Kebutuhan zat nutrient induk 3 – 4 bulan pertama setelah melahirkan
Uraian Kebutuhan zat nutrient
BK(kg)
PK(gr)
TDN(kg)
Ca/gr
P/gr
Induk laktasi dengan BB 350 kg
    8,1
505
4,5
24
24

Tabel 3. Kandungan Nutrisi Konsentrat Sapi Perah di BBPTU-HPT Baturaden







Tabel 4; Kandungan zat nutrisi bahan pakan
Bahan
BK (%)
TDN(%)
PK(%)
Ca
P
Jerami padi
60
2,40
59,0
0,21
0,08
Dedak halus
86
6,30
60,5
0,70
1,50
Bungkil kelapa
86
19,90
78,3
0,30
0,67

Tabel 5. Kandungan zat nutrisi bahan pakan

















BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
   Bahan kering (BK) adalah bahan yang terkandung di dalam pakan setelah dihilangkan airnya. Jumlah pemberian ransum dapat diperkirakan dari kebutuhan  bahan kering. Jumlah bahan kering yang dapat dikonsumsi sapi sangat beragam, sesuai dengan kondisi lingkungan, berkisar 2,2% - 3,0% dari bobot tubuh (Sutardi, 1981). Atau Bahan kering merupakan salah satu hasil dari pembagian fraksi yang berasal dari bahan pakan setelah dikurangi kadar air. Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berat kering (dry basis) (Immawatitari, 2014). Menurut (Lubis, 1992) fungsi bahan kering pakan antara lain sebagai pengisi lambung, perangsang dinding saluran pencernaan dan merangsang pembentukan enzim. Apabila ternak kekurangan bahan kering menyebabkan ternak merasa tidak kenyang.
Soetarno (1999) mengatakan bahwa agar waktu puncak produksi tercapai, berat sapi tidak turun, dan pada akhir masa laktasi sampai masa kering sapi tidak terlalu gamuk, upaya yang dilakukan adalah mengatur konsumsi bahan keringpada seekor sapi perah laktasi sekitar 2,5 – 3,5 persen berat badan.












DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.

Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono).

Darmono. 1999. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.

Hartadi, H., S. Reksohadiprodjo dan A.D. Tillman. 1993. Tabel Komposisi Pakan
untuk Indonesia. Cetakan ke-3. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Atabany, A. 2002. Strategi Pemberian Pakan Induk Kambing Perah Sedang Laktasi Dari Sudut Neraca Energi. InstitutPertanian Bogor.  Bogor.