PT. 254 ILMU NUTRISI TERNAK PERAH
KEBUTUHAN BAHAN KERING (BK)
OLEH
Nama : Fajri Maulana
Bp : 1410621025
Paralel : 02
FAKULTAS
PETERNAKAN
SEMESTER
GANJIL 2014/2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami
ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah, rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Ilmu Nutrisi Ternak Perah berjudul tentang “Kebutuhan Bahan Kering ”.
Selesainya Makalah
Ilmu Nutrisi Ternak Perah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Ibuk
Prof, Dr, Ir, Fauzia Agustin,. MS sebagai dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Nutrisi
Ternak Perah, Fakultas Peternakan, Universitas Andalas.
2. Orang
Tua yang telah memberi dukungan moral dan material dalam kuliah ini.
3. Rekan-rekan
seperjuangan mahasiswa serta semua pihak yang telah memberikan dukungan moril
maupun materil.
Semoga Allah SWT
memberikan imbalan yang belimpah atas segala bantuan yang telah diberikan dan
bermanfaat hendaknya bagi para pembaca. Amin.
20 Agustus
2016
Penulis
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar belakang
Susu sapi perah merupakan salah satu bahan pangan
yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, karena susu
bernilai gizi tinggi dan mempunyai komposisi zat gizi lengkap dengan
perbandingan gizi yang sempurna, sehingga mempunyai nilai yang sangat
startegis. Susu sebagai salah satu sumber protein hewani yang dibutuhkan oleh
generasi muda terutama usia sekolah. Namun demikian produksi susu sapi perah
sampai saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan susu dalam negeri, sehingga
masih mengimport susu sebanyak 60 – 70%. Belum terpenuhinya kebutuhan susu
diakibatkan dari rendahnya produktivitas sapi perah (Anggraeni et al.,
2001). Menurut Schmidt et al (1988), bahwa produktivitas sapi perah yang
masih rendah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : 1). Breeding
(bibit) 2). Feeding (pakan) dan 3). Management (tata laksana). Namun jika
dilihat dari total biaya produksi dalam usaha peternakan, maka kontribusi pakan
yang lebih tinggi yaitu sekitar 75 persennya.
Pakan adalah suatu
bahan yang dimakan hewan yang mengandung energi dan zat-zat gizi atau keduanya
didalam bahan tersebut (Hartadi et al 1986). Menurut Setiawan dan Arsa
(2005), Bahan pakan terdiri
atas dua komponen utama yaitu air dan bahan kering. Bahan kering dibagi
lagi menjadi dua, yaitu bahan organik dan bahan anorganik. Bahan organik
terdiri atas karbohidrat, lemak, protein dan vitamin. Bahan anorganik
terdiri atas mineral dengan berbagai unsur-unsurnya. Bahan
pakan ini harus diberikan pada ternak sebagai kebutuhan hidup pokok dan
produksi. Dengan adanya pakan maka proses pertumbuhan, reproduksi dan produksi
akan berlangsung dengan baik.
1.2.
Tujuan
1).
Mahasiswa dapat mengetahui pengertian Bahan Kering
2).
Mahasiswa dapat mengetahui fungsi Bahan Kering
3).
Mahasiswa dapat mengetahui kebutuhan ternak akan Bahan Kering
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian
Bahan
kering (BK) adalah bahan yang terkandung di dalam pakan setelah dihilangkan
airnya. Jumlah pemberian ransum dapat diperkirakan dari kebutuhan bahan kering. Jumlah bahan kering yang dapat
dikonsumsi sapi sangat beragam, sesuai dengan kondisi lingkungan, berkisar 2,2%
- 3,0% dari bobot tubuh (Sutardi, 1981) atau Bahan kering merupakan salah satu
hasil dari pembagian fraksi yang berasal dari bahan pakan setelah dikurangi
kadar air. Kadar air adalah persentase kandungan air suatu bahan yang dapat
dinyatakan berdasarkan berat basah (wet basis) atau berat kering (dry basis)
(Immawatitari, 2014).
Bahan pakan terdiri
atas dua komponen utama yaitu air dan bahan kering. Bahan kering dibagi lagi
menjadi dua, yaitu bahan organik dan bahan anorganik. Bahan organik terdiri
atas karbohidrat, lemak, protein dan vitamin. Bahan anorganik terdiri
atas mineral dengan berbagai unsur-unsurnya.
Makanan yang
dikonsumsi ternak sebelum siap dimanfaatkan oleh tubuh ternak terlebih dahulu
harus mengalami perombakan. Bahan makanan tersebut dirombak melalui
proses pencernaan yang berlangsung dalam saluran pencernaan. Pada kondisi
normal, konsumsi bahan kering dijadikan ukuran konsumsi ternak.
Bahan kering ransum yang dikonsumsi sapi perah
tersebut di dalam rumen akan difermentasi oleh mikroba rumen. Apabila BK ransum
banyak mengandung protein maka akan membantu mikroba rumen untuk proliferasi
atau perbanyakan jumlah. Jika jumlah mikroba rumennya banyak maka proses
fermentasi di dalam rumen lebih optimal sehingga produk VFA yang dihasilkan
juga optimal. Konsumsi bahan kering
menurut NRC (1988) merupakan kriteria yang penting dalam pakan sapi laktasi
terutama sapi yang berproduksi tinggi karena kebutuhan energi tidak terpenuhi
akibat keterbatasan konsumsi bahan kering. Keterbatasan konsumsi bahan kering
akan berdampak pada penyusutan bobot badan atau penurunan produksi susu.
Soetarno (1999)
mengatakan bahwa agar waktu puncak produksi tercapai, berat sapi tidak turun,
dan pada akhir masa laktasi sampai masa kering sapi tidak terlalu gamuk, upaya
yang dilakukan adalah mengatur konsumsi bahan kering pada seekor sapi perah
laktasi sekitar 2,5 – 3,5 persen berat badan.
Konsumsi bahan kering bergantung pada banyak
faktor, diantaranya adalah kecernaan bahan kering pakan, kandungan energi
metabolis dan kandungan serat kasar. Bahan kering yang dikonsumsi
dikurangi jumlah yang disekresikan merupakan jumlah yang dapat dicerna.
Kualitas dan kuantitas bahan kering harus diketahui untuk meningkatkan
kecernaan bahan makanan yang akan mempengaruhi jumlah konsumsi pakan.
Kualitas dari bahan kering akan mempengaruhi kualitas bahan organik dan
mineral yang terkandung dalam bahan pakan. Konsumsi bahan kering
merupakan faktor penting untuk menunjang asupan nutrien yang akan digunakan
untuk hidup pokok dan produksi. Kecernaan bahan kering yang tinggi pada ternak
ruminansia menunjukkan tingginya zat nutrisi yang dicerna terutama yang dicerna
oleh mikroba rumen. Semakin tinggi nilai persentase kecernaan bahan
pakan tersebut, berarti semakin baik kualitasnya bahan makanan tersebut. Kisaran
normal bahan kering yaitu 50,7-59,7%.
Cara perhitungan Bahan
Kering dengan cara 100 – kadar air, di mana kadar air diukur merupakan persen
bobot yang hilang setelah pemanasan pada suhu 105 °C sampai beratnya tetap. Kebutuhan bahan kering (BK) untuk sapi
laktasi adalah 2-4% bobot badan.
Kebutuhan konsumsi BK (kg / hari) menurut ARC
Konsumsi
BK (kg / hari) = 0,025 X Bobot
Hidup (kg) + X produksi susu (kg/hari)
= 0,025 X 450 + 0,1 X 12
= 12,45 kg
2.2.
Fungsi
BK pakan berfungsi sebagai pengisi lambung
dan merangsang dinding saluran untuk menggiatkan pembentukan enzim di dalam
tubuh ternak. Kebutuhan BK ternak akan meningkat sesuai dengan bertambahnya
produksi susu (Williamsom dan Payne, 1993). Apabila ternak
kekurangan bahan kering menyebabkan ternak merasa tidak kenyang.
Pakan konsentrat merupakan komposisi pakan yang
dilengkapi kebutuhan nutrisi utama, mengandung protein lebih dari 20% dan serat
kasar kurang dari 18%, energi tinggi berperan sebagai penutup kekurangan zat
makanan didalam pakan keseluruhannya (Ensminger,1971).
2.3.
Faktor yang mempengaruhi kecernaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi
kecernaan bahan kering, yaitu jumlah ransum yang dikonsumsi, laju perjalanan
makanan di dalam saluran pencernaan dan jenis kandungan gizi yang terkandung
dalam ransum tersebut. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi nilai
kecernaan bahan kering ransum adalah tingkat proporsi bahan pakan dalam ransum,
komposisi kimia, tingkat protein ransum, persentase lemak dan mineral.
Salah satu bagian dari bahan kering yang dicerna oleh mikroba di dalam rumen
adalah karbohidrat struktural dan karbohidrat non struktural.
2.4.
Kebutuhan BK pada waktu Laktasi
1. Tahap I (awal laktasi)
Setelah sapi melahirkan sampai 70
hari merupakan masa yang paling kritis karena pada saat ini sapi mulai
memproduksi susu.
2.
Tahap II (puncak konsumsi
bahan kering)
Sepuluh minggu ke 2 (minggu 10-20)
setelah beranak sapi harus dijaga supaya puncak produksi berlangsung selama
mungkin.(tahap II) terlihat pada 12-14 minggu setelah beranak, sapi akan
mengkonsumsi bahan kering terbanyak. Konsentrat yang dimakan dapat mencapai 2,5%
berat abdan sapi (sapi berat 650 kg membutuhkan 16 kg konsentrat). Bahan kering
hijauan yang dimakan paling sedikit 1% berat badan sapi, hijauan tersebut
digunakan untuk memelihara fungsi rumen dan tes lemak.
3.
Tahap III ( pertengahan dan
akhir laktasi)
Pada pertengahan dan akhir laktasi
yaitu pada hari ke 140-305 setelah sapi beranak, sebagian besar sapi hanya
mengalami sedikit masalah.
4.
Tahap IV (masa kering)
Masa kering dilakukan 6-8 minggu (2
bulan) sebelum laktasi berikutnya. Bahan kering yang dikonsumsi hendaknya 2%
dari berat badannya. Konsumsi bahan kering hijauan sebanyak 1% dari berat
badannya, maka konsumsi bahan kering konsentrat tidak boleh lebih dari 1% berat
badan.
2.5. Tabel
kebutuhan BK
Tabel 1. Kebutuhan zat nutrient sapi dara BB 300 kg, PBBH (pertambahan
bobot badan perhari) 500 gram/hari
|
Berat badan
|
PBBH/kg
|
BK/kg
|
TDN/kg
|
PK/gr
|
Ca/gr
|
P/gr
|
|
300
|
0,5
|
7,1
|
3,8
|
423
|
14
|
1
|
Tabel 2 : Kebutuhan zat nutrient induk 3 –
4 bulan pertama setelah melahirkan
|
Uraian Kebutuhan zat nutrient
|
BK(kg)
|
PK(gr)
|
TDN(kg)
|
Ca/gr
|
P/gr
|
|
Induk laktasi dengan BB 350 kg
|
8,1
|
505
|
4,5
|
24
|
24
|
Tabel
3. Kandungan Nutrisi Konsentrat Sapi Perah di BBPTU-HPT Baturaden

Tabel 4; Kandungan zat
nutrisi bahan pakan
|
Bahan
|
BK (%)
|
TDN(%)
|
PK(%)
|
Ca
|
P
|
|
Jerami padi
|
60
|
2,40
|
59,0
|
0,21
|
0,08
|
|
Dedak halus
|
86
|
6,30
|
60,5
|
0,70
|
1,50
|
|
Bungkil kelapa
|
86
|
19,90
|
78,3
|
0,30
|
0,67
|
Tabel
5. Kandungan zat nutrisi bahan pakan

BAB
III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Bahan kering (BK) adalah bahan yang
terkandung di dalam pakan setelah dihilangkan airnya. Jumlah pemberian ransum
dapat diperkirakan dari kebutuhan bahan
kering. Jumlah bahan kering yang dapat dikonsumsi sapi sangat beragam, sesuai
dengan kondisi lingkungan, berkisar 2,2% - 3,0% dari bobot tubuh (Sutardi,
1981). Atau Bahan kering merupakan salah satu hasil dari pembagian fraksi yang berasal
dari bahan pakan setelah dikurangi kadar air. Kadar air adalah persentase
kandungan air suatu bahan yang dapat dinyatakan berdasarkan berat basah (wet
basis) atau berat kering (dry basis) (Immawatitari, 2014). Menurut (Lubis,
1992) fungsi bahan kering pakan antara lain sebagai pengisi lambung, perangsang
dinding saluran pencernaan dan merangsang pembentukan enzim. Apabila ternak
kekurangan bahan kering menyebabkan ternak merasa tidak kenyang.
Soetarno (1999)
mengatakan bahwa agar waktu puncak produksi tercapai, berat sapi tidak turun,
dan pada akhir masa laktasi sampai masa kering sapi tidak terlalu gamuk, upaya
yang dilakukan adalah mengatur konsumsi bahan keringpada seekor sapi perah
laktasi sekitar 2,5 – 3,5 persen berat badan.
Anggorodi, R.
1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Blakely, J. dan
D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
(Diterjemahkan oleh B. Srigandono).
Darmono. 1999.
Tatalaksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.
Hartadi, H., S.
Reksohadiprodjo dan A.D. Tillman. 1993. Tabel Komposisi Pakan
untuk Indonesia.
Cetakan ke-3. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Atabany, A. 2002. Strategi
Pemberian Pakan Induk Kambing Perah Sedang Laktasi Dari Sudut Neraca Energi. InstitutPertanian Bogor. Bogor.